Resusitasi Bayi Baru Lahir

RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

 Definisi

Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. Resusitasi digunakan untuk manajemen asfiksia pada bayi baru lahir.

Persiapan Resusitasi BBL

Di dalam setiap persalinan, penolong harus selalu siap melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir. Kesiapan untuk bertindak dapat menghindarkan kehilangan waktu yang sangat berharga bagi upaya pertolongan. Walaupun hanya beberapa menit tidak bernapas, bayi baru lahir dapat mengalami kerusakan otak yang berat atau meninggal.

  1. Persiapan Keluarga

Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayinya serta persiapan yang dilakukan oleh penolong untuk membantu kelancaran persalinan dan melakukan tindakan yang diperlukan

  1. Persiapan Tempat Resusitasi

Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi. Gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya rata, keras, bersih dan kering, misalnya meja, dipan atau di atas lantai beralas tikar. Kondisi yang rata diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi. Tempat resusitasi sebaiknya di dekat sumber pemanas (misalnya; lampu sorot) dan tidak banyak tiupan angin (jendela atau pintu yang terbuka). Biasanya digunakan lampu sorot atau bohlam berdaya 60 watt atau lampu gas minyak bumi (petromax). Nyalakan lampu menjelang kelahiran bayi.

  1. Persiapan Alat Resusitasi

Sebelum menolong persalinan, selain peralatan persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai, yaitu:

  • 2 helai kain/handuk
  • Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi.
  • Alat pengisap lendir DeLee atau bola karet
  • Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal
  • Kotak alat resusitasi.
  • Jam atau pencatat waktu.

 

Keputusan Resusitasi

  • PENILAIAN SEGERA

Segera setelah lahir, letakkan bayi di perut bawah ibu atau dekat perineum (harus bersih dan kering). Cegah kehilangan panas dengan menutupi tubuh bayi dengan kain/handuk yang telah disiapkan sambil melakukan penilaian dengan menjawab 2 pertanyaan:

  1. Apakah bayi menangis kuat, tidak bernapas atau megap-megap?
  2. Apakah bayi lemas?

Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa bayi baru lahir perlu resusitasi, segera lakukan tindakan yang diperlukan. Penundaan pertolongan dapat membahayakan keselamatan bayi. Jepit dan potong tali pusat dan pindahkan bayi ke tempat resusitasi yang telah disediakan. Lanjutkan dengan langkah awal resusitasi.

  • PENILAIAN

Sebelum bayi lahir, sesudah ketuban pecah:

  1. Apakah air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan) pada presentasi kepala.
  2. Segera setelah bayi lahir:
  3. Apakah bayi menangis, bernapas spontan dan tertatur, bernapas megap-megap atau tidak bernapas
  4. Apakah bayi lemas atau lunglai

 

  • KEPUTUSAN

Putuskan perlu dilakukan tindakan resusitasi apabila:

  1. Air ketuban bercampur mekonium.
  2. Bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap.
  3. Bayi lemas atau lunglai

 

  • TINDAKAN

Segera lakukan tindakan apabila:

  1. Bayi tidak bernapas atau megap-megap atau lemas:
  2. Lakukan langkah-langkah resusitasi BBL.

 

Resusitasi BBL Langkah Awal

  1. Jaga bayi tetap hangat
  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
  • Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap terbuka, potong tali pusat
  • Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2 yang telah digelar di tempat resusitasi
  • Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah pemancar panaS

2. Atur posisi bayi

  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
  • Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.

 

  1. Isap lendir

Gunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut:

  • Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung
  • Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu dimasukkan
  • Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk hidung jangan melewati cuping hidung.

Jika dengan balon karet penghisap lakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Tekan bola di luar mulut dan hidung
  • Masukkan ujung pengisap di mulut dan lepaskan tekanan pada bola (lendir akan terisap)
  • Untuk hidung, masukkan di lubang hidup sampai cuping hidung dan lepaskan.

4. Keringkan dan rangsang bayi

  • Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat merangsang BBL mulai menangis
  • Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang BBL mulai bernapas: Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak tangan
  • Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering dibawahnya
  • Seimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi

5. Atur kembali posisi kepala bayi

Atur kembali posisi bayi menjadi posisi menghidu

  1. Langkah penilaian bayi
  • Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap
  • Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi
  • Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.

 

Resusitasi BBL Ventilasi

Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.

  1. Pasang sungkup

Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.

  1. Ventilasi 2 kali
  • Lakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm air

Tiupan awal tabung-sungkup atau remasan awal balon-sungkup sangat penting untuk menguji apakah jalan napas bayi terbuka dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas.

  • Lihat apakah dada bayi mengembang

Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada bayi mengembang.  Jika tidak mengembang:

  1. Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor
  2. Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu
  3. Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan pengisapan
  4. Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30 cm air, jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.

 

  • Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
  1. Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai bernapas spontan dan menangis
  2. Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.

Jika bayi mulai bernapas/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap.

  1. Lihat dada apakah ada retraksi
  2. Hitung frekuensi napas per menit

Jika bernapas >40 per menit dan tidak ada retraksi berat:

  • Jangan ventilasi lagi
  • Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan lanjutkan asuhan BBL
  • Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatan

Jangan tinggalkan bayi sendiri.

Lakukan asuhan pasca resusitasi.

Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan ventilasi.

  • Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang napas
  1. Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
  2. Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan penilaian ulang bayi, apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap
  3. Jika bayi mulai bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi.
  4. Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, teruskan ventilasi 20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang napas setiap 30 detik.
  • Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit resusitasi
  1. Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan dan mengapa
  2. Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
  3. Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan
  4. Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik persalinan
  • Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut jantung
  1. Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
  2. Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan nilai ulang napas dan nilai jantung.

Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar, ventilasi 10 menit. Hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta lakukan pencatatan.

Bayi yang mengalami henti jantung 10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak yang permanen.

Resusitasi BBL bila Ketuban Bercampur mekonium.

Mekonium merupakan tinja pertama dari BBL. Mekonium kental pekat dan berwarna hijau tua atau kehitaman. Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali pada 12-24 jam pertama. Kira-kira pada 15% kasus, mekonium dikeluarkan bersamaan dengan cairan ketuban beberapa saat sebelum persalinan. Hal ini menyebabkan warna kehijauan pada cairan ketuban. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan. Bila mekonium terlihat sebelum persalinan bayi dengan presentasi kepala, lakukan pemantauan ketat karena hal ini merupakan tanda bahaya

 

  1. Penyebab janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan

Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. Kadang-kadang hal ini terkait dengan kurangnya pasokan oksigen (hipoksia). Hipoksia kan meningkatkan peristaltik usus dan relaksasi sfingter ani sehingga isi rektum (mekoneum) diekskresikan. Bayi-bayi dengan risiko tinggi gawat janin (misal; Kecil untuk Masa Kehamilan/KMK atau Hamil Lewat Waktu) ternyata air ketubannya lebih banyak tercampur oleh mekonium (warna kehijauan) dibandingkan dengan air ketuban pada kehamilan normal.

  1. Risiko air ketuban bercampur mekonium terhadap bayi

Hipoksia dapat menimbulkan refleks respirasi bayi di dalam rahim sehingga mekonium yang tercampur dalam air ketuban dapat terdeposit di jaringan paru bayi. Mekonium dapat juga masuk ke paru jika bayi tersedak saat lahir. Masuknya mekonium ke jaringan paru bayi dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin kematian.

  1. Apa yang dapat dilakukan untuk membantu seorang bayi bila terdapat air ketuban bercampur mekonium?

Siap untuk melakukan resusitasi bayi apabila cairan ketuban bercampur mekonium. Langkah-langkah tindakan resusitasi pada bayi baru lahir jika air ketuban bercampur mekonium sama dengan pada bayi yang air ketubannya tidak bercampur mekonium hanya berbeda pada:

  • Setelah seluruh badan bayi lahir: penilaian apakah bayi menangis/ bernapas/ bernapas normal/ megap-megap/ tidak bernapas?
  • Jika menangis/ bernapas normal, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, lanjutkan dengan langkah awal. Jika megap-megap atau tidak bernapas, buka mulut lebar, dan isap lendir di mulut, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan langkah awal.

Keterangan: Pemotongan tali pusat dapat merangsang pernapasan bayi, apabila masih ada air ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bisa tersedak (aspirasi).

 

Asuhan Pasca Resusitasi

Asuhan pascaresusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi. Asuhan pascaresusitasi dilakukan pada keadaan:

Resusitasi berhasil

Resusitasi Berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi. Perlu pemantauan dan dukungan. Resusitasi berhasil bila pernapasan bayi teratur, warna kulitnya kembali normal yang kemudian diikuti dengan perbaikan tonus otot atau bergerak aktif. Lanjutkan dengan asuhan berikutnya.

  1. Konseling:
  • Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang hasil resusitasi yang telah dilakukan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan.
  • Ajarkan ibu cara menilai pernapasan dan menjaga kehangatan tubuh bayi. Bila ditemukan kelainan, segera hubungi penolong.
  • Anjurkan ibu segera memberi ASI kepada bayinya. Bayi dengan gangguan pernapasan perlu banyak energi. Pemberian ASI segera, dapat memasok energi yang dibutuhkan.
  • Anjurkan ibu untuk menjaga kehangatan tubuh bayi (asuhan dengan metode Kangguru).
  • Jelaskan pada ibu dan keluarganya untuk mengenali tanda-tanda bahaya bayi baru lahir dan bagaimana memperoleh pertolongan segera bila terlihat tanda-tanda tersebut pada bayi.

2. Lakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk:

  • Anjurkan ibu menyusukan sambil membelai bayinya
  • Berikan Vitamin K, antibiotik salep mata, imunisasi hepatitis B

3. Lakukan pemantuan seksama terhadap bayi pasca resusitasi selama 2 jam pertama:

Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernapas pada bayi :

  • Tarikan interkostal, napas megap-megap, frekuensi napas <> 60 x per menit.
  • Bayi kebiruan atau pucat.
  • Bayi lemas.

Pantau juga bayi yang tampak pucat walaupun tampak bernapas normal.

4. Jagalah agar bayi tetap hangat dan kering.

Tunda memandikan bayi hingga 6 – 24 jam setelah lahir (perhatikan temperatur tubuh telah normal dan stabil).

 

Bayi perlu rujukan

Bila bayi pascaresusitasi kondisinya memburuk, segera rujuk ke fasilitas rujukan. Tanda-tanda Bayi yang memerlukan rujukan sesudah resusitasi

  • Frekuensi pernapasan kurang dari 30 kali per menit atau lebih dari 60 kali per menit
  • Adanya retraksi (tarikan) interkostal
  • Bayi merintih (bising napas ekspirasi) atau megap- megap (bising napas inspirasi)
  • Tubuh bayi pucat atau kebiruan
  • Bayi lemas

 

  1. Konseling
  • Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa bayinya perlu dirujuk. Bayi dirujuk bersama ibunya dan didampingi oleh bidan. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu atau keluarganya.
  • Minta keluarga untuk menyiapkan sarana transportasi secepatnya. Suami atau salah seorang anggota keluarga juga diminta untuk menemani ibu dan bayi selama perjalanan rujukan.
  • Beritahukan (bila mungkin) ke tempat rujukan yang dituju tentang kondisi bayi dan perkiraan waktu tiba. Beritahukan juga ibu baru melahirkan bayi yang sedang dirujuk.
  • Bawa peralatan resusitasi dan perlengkapan lain yang diperlukan selama perjalan ke tempat rujukan.

2. Asuhan bayi baru lahir yang dirujuk

  • Periksa keadaan bayi selama perjalanan (pernapasan, warna kulit, suhu tubuh) dan catatan medik.
  • Jaga bayi tetap hangat selama perjalanan, tutup kepala bayi dan bayi dalam posisi “Metode Kangguru” dengan ibunya. Selimuti ibu bersama bayi dalam satu selimut.
  • Lindungi bayi dari sinar matahari.
  • Jelaskan kepada ibu bahwa sebaiknya memberi ASI segera kepada bayinya, kecuali pada keadaan gangguan napas, dan kontraindikasi lainnya

3. Asuhan lanjutan

Merencanakan asuhan lanjutan sesudah bayi pulang dari tempat rujukkan akan sangat membantu pelaksanaan asuhan yang diperlukan oleh ibu dan bayinya sehingga apabila kemudian timbul masalah maka hal tersebut dapat dikenali sejak dini dan kesehatan bayi tetap terjaga.

Resusitasi tidak berhasil

Bila bayi gagal bernapas setelah 20 menit tindakan resusitasi dilakukan maka hentikan upaya tersebut. Biasanya bayi akan mengalami gangguan yang berat pada susunan syaraf pusat dan kemudian meninggal. Ibu dan keluarga memerlukan dukungan moral yang adekuat Secara hati-hati dan bijaksana, ajak ibu dan keluarga untuk memahami masalah dan musibah yang terjadi serta berikan dukungan moral sesuai adat dan budaya setempat.

  1. Dukungan moral

Bicaralah dengan ibu dan keluarganya bahwa tindakan resusitasi dan rencana rujukan yang telah didiskusikan sebelumnya ternyata belum memberi hasil seperti yang diharapkan. Minta mereka untuk tidak larut dalam kesedihan, seluruh kemampuan dan upaya dari penolong (dan fasilitas rujukan) telah diberikan dan hasil yang buruk juga sangat disesalkan bersama, minta agar ibu dan keluarga untuk tabah dan memikirkan pemulihan kondisi ibu. Berikan jawaban yang memuaskan terhadap setiap pertanyaan yang diajukan ibu dan keluarganya. Minta keluarga ikut membantu pemberian asuhan lanjutan bagi ibu dengan memperhatikan nilai budaya dan kebiasaan setempat. Tunjukkan kepedulian atas kebutuhan mereka. Bicarakan apa yang selanjutnya dapat dilakukan terhadap bayi yang telah meninggal.

Ibu mungkin merasa sedih atau bahkan menangis. Perubahan hormon saat pascapersalinan dapat menyebabkan perasaan ibu menjadi sangat sensitif, terutama jika bayinya meninggal. Bila ibu ingin mengungkapkan perasaannya, minta ia berbicara dengan orang paling dekat atau penolong. Jelaskan pada ibu dan keluarganya bahwa ibu perlu beristirahat, dukungan moral dan makanan bergizi. Sebaiknya ibu tidak mulai bekerja kembali dalam waktu dekat.

2. Asuhan lanjutan bagi ibu

Payudara ibu akan mengalami pembengkakan dalam 2-3 hari. Mungkin juga timbul rasa demam selama 1 atau 2 hari. Ibu dapat mengatasi pembengkakan payudara dengan cara sebagai berikut:

  • Gunakan BH yang ketat atau balut payudara dengan sedikit tekanan menggunakan selendang /kemben/kain sehingga ASI tidak keluar.
  • Jangan memerah ASI atau merangsang payudara.

3. Asuhan tindak lanjut: kunjungan ibu nifas

Anjurkan ibu untuk kontrol nifas dan ikut KB secepatnya (dalam waktu 2 minggu). Ovulasi bisa cepat kembali terjadi karena ibu tidak menyusukan bayi. Banyak ibu yang tidak menyusui akan mengalami ovulasi kembali setelah 3 minggu pasca persalinan. Bila mungkin, lakukan asuhan pascapersalinan di rumah ibu.

  1. Asuhan tindak lanjut pascaresusitasi

Sesudah resusitasi, bayi masih perlu asuhan lanjut yang diberikan melalui kunjungan rumah. Tujuan asuhan lanjut adalah untuk memantau kondisi kesehatan bayi setelah tindakan resusitasi.

Kunjungan rumah (kunjungan neonatus 0 – 7 hari) dilakukan sehari setelah bayi lahir. Gunakan algoritma Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk melakukan penilaian, membuat klasifikasi, menentukan tindakan dan pengobatan serta tindak lanjut. Catat seluruh langkah ke dalam formulir tata laksana bayi muda 1 hari – 2 bulan.

  1. Bila pada kunjungan rumah (hari ke 1) ternyata bayi termasuk dalam klasifikasi merah maka bayi harus segera dirujuk.
  2. Bila termasuk klasifikasi kuning, bayi harus dikunjungi kembali pada hari ke 2.
  3. Bila termasuk klasifikasi hijau, berikan nasihat untuk perawatan bayi baru lahir di rumah.

Untuk kunjungan rumah berikutnya (kunjungan neonatus 8 – 28 hari), gunakan juga algoritma MTBM.

 

1464745331

 

REFERENSI

JNPK-KR. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: JNPK-KR

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP.

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.

 

 

 

 

Advertisements

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin

Persalinan merupakan hal yang normal dan menakjubkan bagi ibu dan keluarga. Rasa kekhawatiran, ketakutan maupun cemas akan muncul pada saat memasuki persalinan. Bidan merupakan pendamping yang diharapkan dapat memberikan pertolongan, bimbingan dan dukungan selama persalinan. Asuhan yang mendukung selama persalinan merupakan standar pelayanan kebidanan. Yang dimaksud dengan asuhan mendukung adalah bersifat aktif dan ikut serta selama proses berlangsung. Kebutuhan dasar ibu selama persalinan menurut Lesser dan Kenne meliputi:

  1. Asuhan fisik dan psikologis
  2. Kehadiran seorang pendamping secara terus-menurus
  3. Pengurangan rasa sakit
  4. Penerimaan atas sikap dan perilakunya dan
  5. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan aman.

Adapun  kebutuhan dasar ibu selama persalinan yang akan kita bahas adalah sebagai berikut:

  1. Dukungan fisik dan psikologis
  2. Kebutuhan cairan dan nutrisi
  3. Kebutuhan eliminasi
  4. Posisi dan ambulasi dan
  5. Pengurangan rasa nyeri.

1.         Dukungan fisik dan psikologis

Dukungan fisik dan psikologis tidak hanya diberikan oleh bidan, melainkan suami, keluarga, teman, maupun tenaga kesehatan yang lain. Dukungan dapat dimulai sejak awal ibu mengalami kehamilan. Dukungan fisik dan emosional harus sesuai dengan aspek sayang ibu yaitu:

  1. Aman, sesuai evidence based dan menyumbangkan keselamatan jiwa ibu;
  2. Memungkinkan ibu merasa nyaman, aman, serta emosional serta merasa didukung dan didengarkan;
  3. Menghormati praktek budaya, keyakinan agama, ibu/keluarga sebagai pengambil keputusan;
  4. Menggunakan cara pengobatan yang sederhana  sebelum memakai teknologi canggih; dan
  5. Memastikan bahwa informasi yang diberikan adekuat serta dapat dipahami oleh ibu.

Bidan harus mampu memberikan perasaan kehadiran meliputi: mendengarkan dan melakukan observasi, melakukan kontak fisik, bersikap tenang dan bisa menenangkan pasien. Hasil penelitian (Randomized Controlled Trial) membuktikan bahwa dukungan fisik, emosional dan psikologis selama persalinan dan kelahiran sangat efektif dan memberikan pengaruh uapabila dilakukan pendampingan terus-menerus. Adapun pengaruhnya adalah: mengurangi kelahiran dengan tindakan vacum, forceps, dan operasi sesar, mengurangi kejadian APGAR score bayi kurang dari 7, memperpendek lama persalinan, dan kepuasan ibu semakin besar dalam pengalaman persalinan.

2.        Kebutuhan cairan dan nutrisi

Berdasar hasil penelitian terdahulu bahwa pemberian makanan padat dengan pasien yang memerlukan anestesi tidak disetujui. Motilitas, absorpsi dan sekresi asam lambung menurun. Hal ini dapat menyebabkan makanan dapat tertinggal di lambung sehingga dapat terjadi aspirasi pneumonia. Namun demikian, kebutuhan akan cairan masih diperbolehkan. Selama persalinan, ibu memerlukan minum dan sangat dianjurkan minum minuman yang manis dan berenergi.

Sebagian ibu masih berkeinginan untuk makan selama fase laten persalinan, tetapi memasuki fase aktif, hanya ingin minum saja. Pemberian makan dan minum selama persalinan merupakan hal yang tepat, karena memberikan lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi (dehidrasi dapat menghambat kontraksi/tidak teratur dan kurang efektif). Oleh karena itu, anjurkan ibu makan dan minum selama persalinan dan kelahiran bayi, anjurkan keluarga selalu menawarkan makanan ringan dan sering minum pada ibu selama persalinan.

3.        Kebutuhan eliminasi

Selama persalinan terjadi penekanan pada pleksus sakrum oleh bagian terendah janin sehingga menyebabkan retensi urin maupun sering berkemih. Retensi urin terjadi apabila:

  1. Tekanan pada pleksus sakrum menyebabkan terjadinya inhibisi impuls sehingga vesica uretra menjadi penuh tetapi tidak timbul rasa berkemih;
  2. Distensi yang menghambat saraf reseptor pada dinding vesica uretra;
  3. Tekanan oleh bagian terendah pada vesica uretra dan uretra;
  4. Kurangnya privasi/postur yang kurang baik;
  5. Kurangnya kesadaran untuk berkemih; dan
  6. Anastesi regional, epidural, blok pudendal sehingga obat mempengaruhi  saraf vesica uretra.

Pemenuhan kebutuhan eliminai selama persalinan perlu difasilitasi agar membantu kemajuan persalinan dan pasien merasa nyaman. Oleh karena itu, anjurkan ibu untuk bereliminasi secara spontan minimal 2 jam sekali selama persalinan, apabila tidak mungkin dapat dilakukan kateterisasi.

Pengaruh kandung kemih penuh selama persalinan, sebagai berikut:

  1. Menghambat penurunan bagian terendah janin, terutama bila  berada di atas spina isciadika
  2. Menurunkan efisiensi kontraksi uterus
  3. Menimbulkan nyeri yang tidak perlu
  4. Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II
  5. Memperlambat kelahiran plasenta dan
  6. Mencetuskan perdarahan pasca persalinan dengan menghambat kontraksi uterus.

4.        Posisi dan ambulasi

Persalinan merupakan peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau tidak mau harus berlangsung. Selama persalinan, pemilihan posisi dapat membantu ibu tetap tenang dan rileks. Oleh karena itu, berikan pilihan posisi persalinan yang aman dan nyaman. Tidur terlentang tidak perlu ibu lakukan terus menerus selama persalinan, ibu dapat berdiri dan jalan-jalan. Memberikan suasana yang nyaman dan tidak menunjukkan ekspresi yang terburu–buru akan memberikan kepastian pada ibu. Adapun posisi persalinan dapat dilakukan dengan duduk/setengah duduk; merangkak; berjongkok/berdiri; dan berbaring miring kekiri.

A.       Duduk atau setengah duduk

Alasan: mempermudah bidan untuk membimbing kelahiran kepala bayi dan mengamati/mensupport perineum.

B.       Posisi merangkak

Alasan: baik untuk persalinan dengan punggung  yang sakit, membantu bayi melakukan rotasi dan meminimalkan peregangan pada perineum.

C.       Posisi berjongkok/berdiri

Alasan: membatu penurunan kepala bayi dan memperbesar ukuran panggul yaitu menambah 28% ruang outletnya, memperbesar dorongan untuk meneran (bisa memberi kontribusi pada laserasi perineum).

D.       Posisi berbaring miring ke kiri

Alasan: memberi rasa santai bagi ibu yang letih, memberi oksigenasi yang baik bagi bayi dan membantu mencegah terjadinya laserasi.

Selama persalinan tidak dianjurkan posisi litotomi, karena dapat menyebabkan hipotensi yang berakibat ibu bisa pingsan dan hilangnya oksigen bagi bayi, menambah rasa sakit, memperlama proses persalinan, ibu sulit melakukan pernafasan, sulit buang air kecil, membatasi gerakan ibu, ibu merasa tidak berdaya, proses meneran menjadi lebih sulit, menambah kemungkinan laserasi pada perineum dan menimbulkan kerusakan saraf pada kaki dan punggung.

5.        Pengurangan rasa sakit

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengatasi rasa sakit selama persalinan adalah: cara pengurangan rasa sakit sebaiknya sederhana, efektif dan biaya murah. Pendekatan pengurangan rasa sakit menurut Varney’s Midwifery, sebagai berikut:

  1. Adanya seorang yang dapat mendukung dalam persalinan;
  2. Pengaturan posisi;
  3. Relaksasi dan latihan pernafasan;
  4. Istirahat dan privasi;
  5. Penjelasan mengenai proses/kemajuan/prosedur yang akan dilakukan;
  6. Asuhan diri; dan
  7. Sentuhan

Menurut Penny Simpkin, cara pengurangan sakit dapat dilakukan dengan mengurangi rasa sakit langsung dari sumbernya, memberikan rangsangan alternatif yang kuat dan mengurangi reaksi mental negatif, emosional dan reaksi fisik. Adapun secara umum, teknik pengurangan rasa sakit, meliputi:

  1. Kehadiran pendamping yang terus-menerus, sentuhan yang nyaman dan dorongan dari orang yang mendukung;
  2. Perubahan posisi dan pergerakan;
  3. Sentuhan dan masase;
  4. Counterpressure (mengurangi tegangan);
  5. Pijatan ganda pada panggul;
  6. Penekanan pada lutut;
  7. Kompres hangat dan dingin;
  8. Berendam;
  9. Pengeluaran suara;
  10. Visualisasi dan pemusatan perhatian; dan
  11. Mendengarkan musik.

 

REFERENSI

Pusdiknakes. 2003. Asuhan Intrapartum. Jakarta. Hlm: 18-21
Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba Medika. Hlm: 41-61

Kumpulan Leaflet dan Lembar Balik

Berikut ini adalah contoh kumpulan Leaflet dan Lembar balik, silahkan klik disini. Semoga bermanfaat… Semangat

 

2109128.png

❤ @janingsinta

Video Mekanisme Persalinan Normal

 

video diatas adalah gambaran tentang mekanisme penurunan kepala pada persalinan normal, video ini menjabarkan tentang materi yang pernah saya posting sebelumnya yaitu Mekanisme Penurunan Kepala dalam Persalinan

Adaptasi Psikologis Masa Nifas

1)    Taking in

  • Fase ini merupakan periode ketergantungan dimana ibu meng-harapkan segala kebutuhan tubuhnya terpenuhi orang lain.
  • Berlangsung selama 1-2 hari setelah melahirkan, dimana fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri.
  • Beberapa hari setelah melahirkan akan menangguhkan keter-libatannya dalam tanggung jawabnya.
  • Pada waktu ini, ibu yang baru melahirkan memerlukan perlin-dungan dan perawatan.
  • Pada waktu ini, ibu menunjukan kebahagiaan yang sangat dan sangat sengang untuk menceritakan tentang pengalamanya melahirkan.
  • Fase ini ibu lebih cenderung pasif terhadap lingkungannya dikarenakan kelelahan.
  • Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan agar ibu cepat pulih.

2)    Taking hold

  • Pada fase taking hold, secara bergantian timbul kebutuhan ibu untuk mendapatkan perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri.
  • Pase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
  • Pada fase ini, ibu sudah mulai menunjukan kepuasan (terfokus pada bayinya).
  • Ibu mulai terbuka untuk menerima pendidikan bagi dirinya dan juga bayinya.
  • Ibu mudah didorong untuk melakukan perawatan bayinya.
  • Pada fase ini, ibu berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan berlatih tetang cara pera-watan bayi dan ibu memiliki keinginan untuk merawat bayinya secara langsung.
  • Fase ini sangat tepat bagi bidan untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang hal yang diperlukan bagi ibu dan bayinya.

3)    Leting go

  • Fase ini merupakan fase penerima tanggung jawab akan peran barunya, berlangsung setelah hari ke 10 pasca melahirkan.
  • Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.
  • Keinginan ibu untuk merawat diri dan bayinya sangat meningkat pada fase ini.
  • Terjadi penyesuaikan dalam hubungan keluarga untuk mengob-servasi bayi.
  • Hubungan antar pasangan memerlukan penyesuaikan karena adanya anggota keluarga baru.

(Maryunani, 2009; h.30-34)

Perubahan Fisiologis Masa Nifas

1)    Perubahan sistem reproduksi

a)    Uterus

Involusi uterus merupakan suatu porses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus (Ambarwati, 2010; h. 73).

Tabel 2.4 Perubahan uterus masa nifas

Involusi uterus

TFU

Berat uterus

Diameter uterus

Palpasi cervik

Plasenta lahir

Setinggi pusat

1000 gr

12,5 cm

Lembut/

Lunak

7 hari

Pertengahan pusat – shympisis

500 gr

7,5 cm

2 cm

14 hari

Tidak teraba

350 gr

5 cm

1 cm

6 minggu

Normal

60 gr

2,5 cm

menyempit

(Ambarwati, 2010; h. 76)

b)    Lochea

Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama puerperium (Varney, 2007; h.960).

(1)  Lochea Rubra

Lochea ini muncul pada hari ke 1-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.

(2)  Lochea Sanguinolenta.

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai ke 7 post partum.

(3)  Lochea Serosa

Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai ke 14 post partum.

(4)  Lochea Alba

Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Lochea ini berlangsung selama 2-6 minggu post partum.

(Ambarwati, 2010; h.78-79).

c)    Vagina

Pada sekitar minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae kembali. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap seperti ukuran sebelum hamil pada minggu ke 6-8 setelah melahirkan. Rugae akan terlihat kembali pada minggu ke 3 atau ke 4. Esterogen setelah melahirkan sangat berperan dalam penebalan mukosa vagina dan pembentukan rugae kembali (Maryunani, 2009; h. 14).

2)    Perubahan sistem perkemihan

Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

Kandung kemih dalam puerperium sangat kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kemih penuh atau sesudah buang air kecil masih tertinggal urine residual (Ambarwati, 2010; h. 81).

3)    Perubahan Gastrointestinal

Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Wanita mungkin menahan defekasi karena perineumnya mengalami perlukaan atau karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak jahitan jika melakukan defekasi (Varney, 2007; h. 961).

4)    Perubahan muskuloskeletal

Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan (Ambarwati, 2010; h. 81-82).

5)    Perubahan endokrin

a)    Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pasca hari ke-3 post partum.

b)    Hormon pituitary

Prolaktin darah akan mengikat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusi, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler (minggu ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

c)    Hypotalamik pituitary ovarium

Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi per-tama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar esterogen dan progesteron.

d)    Kadar esterogen

Seleteh persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen yang bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

(Sulistyawati, 2009; h. 80)

6)    Perubahan tanda – tanda vital

a)    Suhu

Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

b)    Nadi

Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal setelah beberapa jam pertama pascapartum. Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerpurium, hal tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi/ hemoragi pascapartum lambat (Varney, 2007; h. 961).

c)    Tekanan darah

Hasil pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Penurunan takanan darah bisa mengindikasikan adanya hipovolemia yang berkaitan dengan hemorhagi uterus. Peningkatan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia (Maryunani, 2009; h. 26).

d)    Pernafasan

Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009; h. 27).

Tanda ASI Cukup

1)    Tanda  ASI cukup

a)    Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda.

b)    Bayi sering buang air besar berwarna kuning berbiji.

c)    Bayi tampak puas, sewaktu – waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi selalu tidur bukan pertanda baik.

d)    Bayi setidaknya menyusu 10 – 12 kali dalam 24 jam.

e)    Payudara ibu merasa lembut dan kosong setiap kali menyusui.

f)     Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai menyusu.

g)    Bayi bertambah berat badannya.

(Saifuddin, 2002; h. N-26).

 

2)    Tanda ASI tidak cukup

Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (atau setidak tidaknya 10 – 12 kali dalam 24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan. Jika bayi dibiarkan tidur selama lebih dari 3 – 4 jam, atau bayi diberi jenis makanan lain, atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka pesan hormonal yang diterima otak ibu adalah untuk menghasilkan susu lebih sedikit (Saifuddin, 2002; h. N-26).