Kumpulan Leaflet dan Lembar Balik

Berikut ini adalah contoh kumpulan Leaflet dan Lembar balik, silahkan klik disini. Semoga bermanfaat… Semangat

 

2109128.png

❤ @janingsinta

Video Mekanisme Persalinan Normal

 

video diatas adalah gambaran tentang mekanisme penurunan kepala pada persalinan normal, video ini menjabarkan tentang materi yang pernah saya posting sebelumnya yaitu Mekanisme Penurunan Kepala dalam Persalinan

Adaptasi Psikologis Masa Nifas

1)    Taking in

  • Fase ini merupakan periode ketergantungan dimana ibu meng-harapkan segala kebutuhan tubuhnya terpenuhi orang lain.
  • Berlangsung selama 1-2 hari setelah melahirkan, dimana fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri.
  • Beberapa hari setelah melahirkan akan menangguhkan keter-libatannya dalam tanggung jawabnya.
  • Pada waktu ini, ibu yang baru melahirkan memerlukan perlin-dungan dan perawatan.
  • Pada waktu ini, ibu menunjukan kebahagiaan yang sangat dan sangat sengang untuk menceritakan tentang pengalamanya melahirkan.
  • Fase ini ibu lebih cenderung pasif terhadap lingkungannya dikarenakan kelelahan.
  • Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan agar ibu cepat pulih.

2)    Taking hold

  • Pada fase taking hold, secara bergantian timbul kebutuhan ibu untuk mendapatkan perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri.
  • Pase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
  • Pada fase ini, ibu sudah mulai menunjukan kepuasan (terfokus pada bayinya).
  • Ibu mulai terbuka untuk menerima pendidikan bagi dirinya dan juga bayinya.
  • Ibu mudah didorong untuk melakukan perawatan bayinya.
  • Pada fase ini, ibu berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan berlatih tetang cara pera-watan bayi dan ibu memiliki keinginan untuk merawat bayinya secara langsung.
  • Fase ini sangat tepat bagi bidan untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang hal yang diperlukan bagi ibu dan bayinya.

3)    Leting go

  • Fase ini merupakan fase penerima tanggung jawab akan peran barunya, berlangsung setelah hari ke 10 pasca melahirkan.
  • Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.
  • Keinginan ibu untuk merawat diri dan bayinya sangat meningkat pada fase ini.
  • Terjadi penyesuaikan dalam hubungan keluarga untuk mengob-servasi bayi.
  • Hubungan antar pasangan memerlukan penyesuaikan karena adanya anggota keluarga baru.

(Maryunani, 2009; h.30-34)

Perubahan Fisiologis Masa Nifas

1)    Perubahan sistem reproduksi

a)    Uterus

Involusi uterus merupakan suatu porses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus (Ambarwati, 2010; h. 73).

Tabel 2.4 Perubahan uterus masa nifas

Involusi uterus

TFU

Berat uterus

Diameter uterus

Palpasi cervik

Plasenta lahir

Setinggi pusat

1000 gr

12,5 cm

Lembut/

Lunak

7 hari

Pertengahan pusat – shympisis

500 gr

7,5 cm

2 cm

14 hari

Tidak teraba

350 gr

5 cm

1 cm

6 minggu

Normal

60 gr

2,5 cm

menyempit

(Ambarwati, 2010; h. 76)

b)    Lochea

Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama puerperium (Varney, 2007; h.960).

(1)  Lochea Rubra

Lochea ini muncul pada hari ke 1-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.

(2)  Lochea Sanguinolenta.

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai ke 7 post partum.

(3)  Lochea Serosa

Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai ke 14 post partum.

(4)  Lochea Alba

Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Lochea ini berlangsung selama 2-6 minggu post partum.

(Ambarwati, 2010; h.78-79).

c)    Vagina

Pada sekitar minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae kembali. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap seperti ukuran sebelum hamil pada minggu ke 6-8 setelah melahirkan. Rugae akan terlihat kembali pada minggu ke 3 atau ke 4. Esterogen setelah melahirkan sangat berperan dalam penebalan mukosa vagina dan pembentukan rugae kembali (Maryunani, 2009; h. 14).

2)    Perubahan sistem perkemihan

Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

Kandung kemih dalam puerperium sangat kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kemih penuh atau sesudah buang air kecil masih tertinggal urine residual (Ambarwati, 2010; h. 81).

3)    Perubahan Gastrointestinal

Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Wanita mungkin menahan defekasi karena perineumnya mengalami perlukaan atau karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak jahitan jika melakukan defekasi (Varney, 2007; h. 961).

4)    Perubahan muskuloskeletal

Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan (Ambarwati, 2010; h. 81-82).

5)    Perubahan endokrin

a)    Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pasca hari ke-3 post partum.

b)    Hormon pituitary

Prolaktin darah akan mengikat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusi, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler (minggu ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

c)    Hypotalamik pituitary ovarium

Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi per-tama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar esterogen dan progesteron.

d)    Kadar esterogen

Seleteh persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen yang bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

(Sulistyawati, 2009; h. 80)

6)    Perubahan tanda – tanda vital

a)    Suhu

Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

b)    Nadi

Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal setelah beberapa jam pertama pascapartum. Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerpurium, hal tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi/ hemoragi pascapartum lambat (Varney, 2007; h. 961).

c)    Tekanan darah

Hasil pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Penurunan takanan darah bisa mengindikasikan adanya hipovolemia yang berkaitan dengan hemorhagi uterus. Peningkatan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia (Maryunani, 2009; h. 26).

d)    Pernafasan

Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009; h. 27).

Tanda ASI Cukup

1)    Tanda  ASI cukup

a)    Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda.

b)    Bayi sering buang air besar berwarna kuning berbiji.

c)    Bayi tampak puas, sewaktu – waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi selalu tidur bukan pertanda baik.

d)    Bayi setidaknya menyusu 10 – 12 kali dalam 24 jam.

e)    Payudara ibu merasa lembut dan kosong setiap kali menyusui.

f)     Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai menyusu.

g)    Bayi bertambah berat badannya.

(Saifuddin, 2002; h. N-26).

 

2)    Tanda ASI tidak cukup

Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (atau setidak tidaknya 10 – 12 kali dalam 24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan. Jika bayi dibiarkan tidur selama lebih dari 3 – 4 jam, atau bayi diberi jenis makanan lain, atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka pesan hormonal yang diterima otak ibu adalah untuk menghasilkan susu lebih sedikit (Saifuddin, 2002; h. N-26).

Manfaat Pemberian ASI

Manfaat pemberian ASI

a)    Manfaat pemberian ASI bagi bayi adalah:

(1)  Dapat membantu memulainya kehidupan dengan baik.

(2)  Mengandung antibodi.

(3)  Mengandung komposisi yang tepat.

(4)  Mengurangi karies dentis.

(5)  Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi.

(6)  Terhindar dari alergi

(7)  Meningkatkan kecerdasan bagi bayi.

(8)  Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara.

b)    Manfaat bagi Ibu adalah:

(1)  Sebagai kontrasepsi

(2)  Menyehatkan ibu (Membantu involusi uterus, mencegah kanker, penundaan haid, berkurangnya perdarahan).

(3)  Menurunkan berat badan.

(4)  Kepuasan psikologis.

c)    Manfaat bagi keluarga adalah:

(1)  Hemat, karena tidak perlu biaya untuk membeli susu.

(2)  Kebahagiaan keluarga bertambah.

(3)  Praktis karena dapat diberikan dimana saja, kapan saja.

d)    Manfaat bagi negara adalah:

(1)  Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.

(2)  Menghemat devisa negara.

(3)  Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

(4)  Peningkatan kualitas generasi penerus.

(Ambarwati, 2010; h. 17-24)

Laktasi – Fisiologi Laktasi

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dai ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami (Ambarwati, 2010; h. 6).

Fisiologi laktasi

Setelah persalinan, plasenta terlepas. Dengan terlepasnya plasenta, maka produksi hormon esterogen dan progesteron ber-kurang. Pada hari kedua atau ketiga setelah persalinan, kadar esterogen dan progesteron turun drastis sedangkan kadar prolaktin tetap tinggi sehingga mulai terjadi sekresi ASI. Saat bayi mulai menyusu, rangsangan isapan bayi pada puting susu menyebabkan prolaktin dikeluarkan dari hipofise sehingga sekresi ASI semakin lancar.

Pada masa laktasi terdapat refleks pada ibu dan refleks pada bayi. Refleks yang terjadi pada ibu adalah: 

a)    Refleks prolaktin

Rangsangan dan isapan bayi melalui serabut syaraf memicu kelenjar hipofise bagian depan untuk mengeluarkan hormon proaktin ke dalam peredaran darah yang menye-babkan sel kelenjar mengeluarkan ASI. Semakin sering bayi menghisap semakin banyak hormon prolaktin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise. Akibatnya makin banyak ASI dipro-duksi oleh sel kelenjar. Sebaliknya berkurangnya isapan bayi menyebabkan produksi ASI berkurang, mekanisme ini disebut supply and demand.

b)    Refleks oksitosin (let down reflex)

Rangsangan isapan bayi melalui serabut saraf, memacu hipofise bagian belakang untuk mensekresi hormon oksitosin ke dalam darah. Oksitosin ini menyebabkan sel – sel myopytel yang mengelilingi alveoli dan duktuli berkon-traksi, sehingga ASI mengalir dari alveoli ke duktuli menuju sinus dan puting. Dengan demikian sering menyusu baik dan penting untuk pengosongan payudara agar tidak terjadi engorgement (pembengkakan payudara), tetapi sebaliknya memperlancar pengeluaran ASI.

Oksitosin juga merangsang otot rahim berkontraksi  sehingga mempercepat terlepasnya plasenta dari dinding rahim dan mengurangi perdarahan setelah persalinan. Let down reflex dipengaruhi oleh emosi ibu, rasa khawatir, rasa sakit dan kurang percaya diri.

Sedangkan untuk refleks pada bayi adalah:

a)    Refleks mencari puting (rooting reflex)

Bila pipi atau bibir bayi disentuh, maka bayi akan menoleh ke arah sentuhan, membuka mulutnya dan beru-saha untuk mencari puting untuk menyusu. Lidah keluar dan melengkung mengangkap puting dan areola.

b)    Refleks menghisap (sucking reflex)

Refleks terjadi karena rangsangan puting susu pada palatum durum bayi bila areola masuk ke dalam mulut bayi. Gusi bayi menekan areola, lidah dan langit – langit sehingga menekan sinus laktiferus yang berada di bawah areola. Kemudian terjadi gerakan peristaltik yang mengeluarkan ASI dari payudara masuk ke dalam mulut bayi.

c)    Refleks menelan (swallowing reflex)

ASI dalam mulut bayi menyebabkan gerakan otot menelan.

(Pinem, 2009; h. 16-18)