Manfaat Pemberian ASI

Manfaat pemberian ASI

a)    Manfaat pemberian ASI bagi bayi adalah:

(1)  Dapat membantu memulainya kehidupan dengan baik.

(2)  Mengandung antibodi.

(3)  Mengandung komposisi yang tepat.

(4)  Mengurangi karies dentis.

(5)  Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi.

(6)  Terhindar dari alergi

(7)  Meningkatkan kecerdasan bagi bayi.

(8)  Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara.

b)    Manfaat bagi Ibu adalah:

(1)  Sebagai kontrasepsi

(2)  Menyehatkan ibu (Membantu involusi uterus, mencegah kanker, penundaan haid, berkurangnya perdarahan).

(3)  Menurunkan berat badan.

(4)  Kepuasan psikologis.

c)    Manfaat bagi keluarga adalah:

(1)  Hemat, karena tidak perlu biaya untuk membeli susu.

(2)  Kebahagiaan keluarga bertambah.

(3)  Praktis karena dapat diberikan dimana saja, kapan saja.

d)    Manfaat bagi negara adalah:

(1)  Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.

(2)  Menghemat devisa negara.

(3)  Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

(4)  Peningkatan kualitas generasi penerus.

(Ambarwati, 2010; h. 17-24)

Laktasi – Fisiologi Laktasi

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dai ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami (Ambarwati, 2010; h. 6).

Fisiologi laktasi

Setelah persalinan, plasenta terlepas. Dengan terlepasnya plasenta, maka produksi hormon esterogen dan progesteron ber-kurang. Pada hari kedua atau ketiga setelah persalinan, kadar esterogen dan progesteron turun drastis sedangkan kadar prolaktin tetap tinggi sehingga mulai terjadi sekresi ASI. Saat bayi mulai menyusu, rangsangan isapan bayi pada puting susu menyebabkan prolaktin dikeluarkan dari hipofise sehingga sekresi ASI semakin lancar.

Pada masa laktasi terdapat refleks pada ibu dan refleks pada bayi. Refleks yang terjadi pada ibu adalah: 

a)    Refleks prolaktin

Rangsangan dan isapan bayi melalui serabut syaraf memicu kelenjar hipofise bagian depan untuk mengeluarkan hormon proaktin ke dalam peredaran darah yang menye-babkan sel kelenjar mengeluarkan ASI. Semakin sering bayi menghisap semakin banyak hormon prolaktin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise. Akibatnya makin banyak ASI dipro-duksi oleh sel kelenjar. Sebaliknya berkurangnya isapan bayi menyebabkan produksi ASI berkurang, mekanisme ini disebut supply and demand.

b)    Refleks oksitosin (let down reflex)

Rangsangan isapan bayi melalui serabut saraf, memacu hipofise bagian belakang untuk mensekresi hormon oksitosin ke dalam darah. Oksitosin ini menyebabkan sel – sel myopytel yang mengelilingi alveoli dan duktuli berkon-traksi, sehingga ASI mengalir dari alveoli ke duktuli menuju sinus dan puting. Dengan demikian sering menyusu baik dan penting untuk pengosongan payudara agar tidak terjadi engorgement (pembengkakan payudara), tetapi sebaliknya memperlancar pengeluaran ASI.

Oksitosin juga merangsang otot rahim berkontraksi  sehingga mempercepat terlepasnya plasenta dari dinding rahim dan mengurangi perdarahan setelah persalinan. Let down reflex dipengaruhi oleh emosi ibu, rasa khawatir, rasa sakit dan kurang percaya diri.

Sedangkan untuk refleks pada bayi adalah:

a)    Refleks mencari puting (rooting reflex)

Bila pipi atau bibir bayi disentuh, maka bayi akan menoleh ke arah sentuhan, membuka mulutnya dan beru-saha untuk mencari puting untuk menyusu. Lidah keluar dan melengkung mengangkap puting dan areola.

b)    Refleks menghisap (sucking reflex)

Refleks terjadi karena rangsangan puting susu pada palatum durum bayi bila areola masuk ke dalam mulut bayi. Gusi bayi menekan areola, lidah dan langit – langit sehingga menekan sinus laktiferus yang berada di bawah areola. Kemudian terjadi gerakan peristaltik yang mengeluarkan ASI dari payudara masuk ke dalam mulut bayi.

c)    Refleks menelan (swallowing reflex)

ASI dalam mulut bayi menyebabkan gerakan otot menelan.

(Pinem, 2009; h. 16-18)

Program dan Kebijakan Teknis Masa Nifas

Paling sedikit 4 kali kunjugan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, men-deteksi, dan menangani masalah – masalah yang terjadi (Saifuddin, 2008; h. 123).

Tabel 2.3 Asuhan kunjugan masa nifas normal

Kunjungan

Waktu

Tujuan

I

6 – 8 jam setelah persalinan

  • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  • Pemantauan keadaan umum ibu.
  • Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (Bonding Attachment).
  • ASI eksklusif.

II

6 hari setelah persalinan

  • Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus dan tidak ada tanda – tanda perdarahan abnormal.
  • Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
  • Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi.
  • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak mamperlihatkan tanda – tanda penyulit.

III

2 minggu setelah persalinan

  • Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus dan tidak ada tanda – tanda perdarahan abnormal.
  • Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
  • Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi.
  • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak mamperlihatkan tanda – tanda penyulit.

IV

6 minggu setelah persalinan

  • Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia alami.
  • Memberi konseling untuk KB secara dini, imunisasi, senam nifas, dan tanda – tanda bahaya yang dialami oleh ibu dan bayi.

Tahapan Masa Nifas

Menurut Ambarwati (2010; h. 3), masa nifas dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

1)    Puerpurium dini

Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2)    Puerpurium intermedial

Kepulihan menyeluruh alat – alat genitalia yang lamanya 6 – 8 minggu.

3)    Remote puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu – minggu, bulan, tahunan.

 

Definisi Nifas

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira – kira 6 minggu (Saifuddin, 2010; h. 122).

Masa nifas adalah masa setelah keluarnya plasenta sampai alat – alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari (Ambarwati, 2010; h. 2).

 

Tahapan atau Kala dalam Persalinan

1)    Kala I

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida 8 jam. (Manuaba, 2010; h. 173).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h.38), Kala satu persalian terdiri dari dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.

a)    Fase laten

    1. Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.
    2. Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
    3. Pada umumnya, berlangsung hampir atau hingga 8 jam.

b)    Fase aktif

    1. Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi diangap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
    2. Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata – rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 sampai 2 cm (multipara).
    3. Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Menurut Manuaba (2010; h. 184), Hal yang perlu dilakukan dalam kala I adalah:

  1. Memperhatikan kesabaran parturien.
  2. Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi temperatur perna-fasan berkala sekitar 2 sampai 3 jam.
  3. Pemeriksaan denyut jantung janin setiap ½ jam sampai 1 jam.
  4. Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong.
  5. Memperhatikan keadaan patologis (meningkatnya lingkaran Bandle, ketuban pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung, perubahan denyut jantung janin, pengeluaran mekoneum pada letak kepala, keadaan his yang bersifat patologis, perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin).
  6. Parturien tidak diperkenankan mengejan.

2)    Kala II

Persalinan kala dua dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua disebut juga kala pengeluaran bayi (JNPK-KR Depkes RI, 2008; h. 77).

Proses ini biasanya berlangsung selama 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi (Yeyeh, 2009 b; h.6).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 77), tanda dan gejala kala dua persalinan adalah:

  • Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
  • Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan/atau vaginanya.
  • Perineum menonjol.
  • Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
  • Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya adalah pembukaan serviks telah lengkap atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui introinvus vagina.

3)    Kala III

Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Saifuddin, 2008; h. 101).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 96), tanda – tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal berikut ini: Perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang, semburan darah mendadak dan singkat.

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 96-97), Manajemen aktif kala tiga bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksaan fisiologis.

Keuntungan manajemen katif kala tiga adalah persalinan kala tiga lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, me-ngurangi kejadian retensio plasenta. Tiga langkah utama dalam manajemen aktif kala tiga adalah peberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir, melakukan penegangan tali pusat terkendali, measase fundus uteri

4)    Kala IV

Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum (Saifuddin, 2008; h. 101).

Menurut Manuaba (2010; h. 174, 192), Kala IV dimaksud-kan untuk melakukan observasi karena perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang harus dilakukan adalah:

  • Kesadaran penderita, mencerminkan kebahagiaan karena tugasnya untuk melahirkan bayi telah selesai.
  • Pemeriksaan yang dilakukan: tekanan darah, nadi, pernafa-san, dan suhu; kontraksi rahim yang keras; perdarahan yang mungkin terjadi dari plasenta rest, luka episiotomi, perlukaan pada serviks; kandung kemih dikosongkan, karena dapat mengganggu kontraksi rahim.
  • Bayi yang telah dibersihkan diletakan di samping ibunya agar dapat memulai pemberian ASI.
  • Observasi dilakukan selama 2 jam dengan interval pemerik-saan setiap 2 jam.
  • Bila keadaan baik, parturien dipindahkan ke ruangan inap bersama sama dengan bayinya.

Mekanisme Penurunan Kepala dalam Persalinan

Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dapat dalam keadaan sinklitismus ialah bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul. Dapat pula kepala masuk dalam keadaan asinklitismus yaitu arah sumbu kepala janin miring dengan bidang pintu atas panggul.

Akibat sumbu kepala janin yang tidak simetris dengan sumbu lebih mendekati oksiput, menyebabkan kepala mengadakan fleksi. Dengan fleksi kepala janin memasuki ruang panggul yang paling kecil. Sampai dasar panggul kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal. Akibat kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intrauterine, kepala mengadakan rotasi, disebut pula putaran paksi dalam.

Rotasi ubun – ubun kecil akan berputar ke arah depan, sehingga pada dasar panggul ubun – ubun kecil dibawah simfisis, maka sub oksiput sebagai hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi untuk dapat dilahirkan. Sesudah kepala lahir, kepala segera mengadakan rotasi yang disebut putaran paksi luar untuk menye-suaikan kepala dengan punggung (Yeyeh, 2009 b; h. 92-95).