Perubahan Fisiologis Masa Nifas

1)    Perubahan sistem reproduksi

a)    Uterus

Involusi uterus merupakan suatu porses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus (Ambarwati, 2010; h. 73).

Tabel 2.4 Perubahan uterus masa nifas

Involusi uterus

TFU

Berat uterus

Diameter uterus

Palpasi cervik

Plasenta lahir

Setinggi pusat

1000 gr

12,5 cm

Lembut/

Lunak

7 hari

Pertengahan pusat – shympisis

500 gr

7,5 cm

2 cm

14 hari

Tidak teraba

350 gr

5 cm

1 cm

6 minggu

Normal

60 gr

2,5 cm

menyempit

(Ambarwati, 2010; h. 76)

b)    Lochea

Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama puerperium (Varney, 2007; h.960).

(1)  Lochea Rubra

Lochea ini muncul pada hari ke 1-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium.

(2)  Lochea Sanguinolenta.

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai ke 7 post partum.

(3)  Lochea Serosa

Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai ke 14 post partum.

(4)  Lochea Alba

Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Lochea ini berlangsung selama 2-6 minggu post partum.

(Ambarwati, 2010; h.78-79).

c)    Vagina

Pada sekitar minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae kembali. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap seperti ukuran sebelum hamil pada minggu ke 6-8 setelah melahirkan. Rugae akan terlihat kembali pada minggu ke 3 atau ke 4. Esterogen setelah melahirkan sangat berperan dalam penebalan mukosa vagina dan pembentukan rugae kembali (Maryunani, 2009; h. 14).

2)    Perubahan sistem perkemihan

Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

Kandung kemih dalam puerperium sangat kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kemih penuh atau sesudah buang air kecil masih tertinggal urine residual (Ambarwati, 2010; h. 81).

3)    Perubahan Gastrointestinal

Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Wanita mungkin menahan defekasi karena perineumnya mengalami perlukaan atau karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak jahitan jika melakukan defekasi (Varney, 2007; h. 961).

4)    Perubahan muskuloskeletal

Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan (Ambarwati, 2010; h. 81-82).

5)    Perubahan endokrin

a)    Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pasca hari ke-3 post partum.

b)    Hormon pituitary

Prolaktin darah akan mengikat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusi, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler (minggu ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

c)    Hypotalamik pituitary ovarium

Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi per-tama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar esterogen dan progesteron.

d)    Kadar esterogen

Seleteh persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen yang bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

(Sulistyawati, 2009; h. 80)

6)    Perubahan tanda – tanda vital

a)    Suhu

Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum (Varney, 2007; h. 961).

b)    Nadi

Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal setelah beberapa jam pertama pascapartum. Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerpurium, hal tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi/ hemoragi pascapartum lambat (Varney, 2007; h. 961).

c)    Tekanan darah

Hasil pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Penurunan takanan darah bisa mengindikasikan adanya hipovolemia yang berkaitan dengan hemorhagi uterus. Peningkatan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia (Maryunani, 2009; h. 26).

d)    Pernafasan

Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009; h. 27).

Advertisements

Tahapan atau Kala dalam Persalinan

1)    Kala I

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida 8 jam. (Manuaba, 2010; h. 173).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h.38), Kala satu persalian terdiri dari dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.

a)    Fase laten

    1. Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.
    2. Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
    3. Pada umumnya, berlangsung hampir atau hingga 8 jam.

b)    Fase aktif

    1. Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi diangap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
    2. Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata – rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 sampai 2 cm (multipara).
    3. Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Menurut Manuaba (2010; h. 184), Hal yang perlu dilakukan dalam kala I adalah:

  1. Memperhatikan kesabaran parturien.
  2. Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi temperatur perna-fasan berkala sekitar 2 sampai 3 jam.
  3. Pemeriksaan denyut jantung janin setiap ½ jam sampai 1 jam.
  4. Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong.
  5. Memperhatikan keadaan patologis (meningkatnya lingkaran Bandle, ketuban pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung, perubahan denyut jantung janin, pengeluaran mekoneum pada letak kepala, keadaan his yang bersifat patologis, perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin).
  6. Parturien tidak diperkenankan mengejan.

2)    Kala II

Persalinan kala dua dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua disebut juga kala pengeluaran bayi (JNPK-KR Depkes RI, 2008; h. 77).

Proses ini biasanya berlangsung selama 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi (Yeyeh, 2009 b; h.6).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 77), tanda dan gejala kala dua persalinan adalah:

  • Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
  • Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan/atau vaginanya.
  • Perineum menonjol.
  • Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
  • Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya adalah pembukaan serviks telah lengkap atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui introinvus vagina.

3)    Kala III

Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Saifuddin, 2008; h. 101).

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 96), tanda – tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal berikut ini: Perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang, semburan darah mendadak dan singkat.

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; h. 96-97), Manajemen aktif kala tiga bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksaan fisiologis.

Keuntungan manajemen katif kala tiga adalah persalinan kala tiga lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, me-ngurangi kejadian retensio plasenta. Tiga langkah utama dalam manajemen aktif kala tiga adalah peberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir, melakukan penegangan tali pusat terkendali, measase fundus uteri

4)    Kala IV

Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum (Saifuddin, 2008; h. 101).

Menurut Manuaba (2010; h. 174, 192), Kala IV dimaksud-kan untuk melakukan observasi karena perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang harus dilakukan adalah:

  • Kesadaran penderita, mencerminkan kebahagiaan karena tugasnya untuk melahirkan bayi telah selesai.
  • Pemeriksaan yang dilakukan: tekanan darah, nadi, pernafa-san, dan suhu; kontraksi rahim yang keras; perdarahan yang mungkin terjadi dari plasenta rest, luka episiotomi, perlukaan pada serviks; kandung kemih dikosongkan, karena dapat mengganggu kontraksi rahim.
  • Bayi yang telah dibersihkan diletakan di samping ibunya agar dapat memulai pemberian ASI.
  • Observasi dilakukan selama 2 jam dengan interval pemerik-saan setiap 2 jam.
  • Bila keadaan baik, parturien dipindahkan ke ruangan inap bersama sama dengan bayinya.

Mekanisme Penurunan Kepala dalam Persalinan

Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dapat dalam keadaan sinklitismus ialah bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul. Dapat pula kepala masuk dalam keadaan asinklitismus yaitu arah sumbu kepala janin miring dengan bidang pintu atas panggul.

Akibat sumbu kepala janin yang tidak simetris dengan sumbu lebih mendekati oksiput, menyebabkan kepala mengadakan fleksi. Dengan fleksi kepala janin memasuki ruang panggul yang paling kecil. Sampai dasar panggul kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal. Akibat kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intrauterine, kepala mengadakan rotasi, disebut pula putaran paksi dalam.

Rotasi ubun – ubun kecil akan berputar ke arah depan, sehingga pada dasar panggul ubun – ubun kecil dibawah simfisis, maka sub oksiput sebagai hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi untuk dapat dilahirkan. Sesudah kepala lahir, kepala segera mengadakan rotasi yang disebut putaran paksi luar untuk menye-suaikan kepala dengan punggung (Yeyeh, 2009 b; h. 92-95).

Faktor Yang Berperan Dalam Persalinan

1)    Power (His/Kontraksi)

Menurut Yeyeh (2009 b; h. 13-18), his/ kontraksi uterus adalah kontraksi otot – otot uterus dalam persalinan. Kontraksi uterus tidak sama kuat, yang terkuat di fundus dan terlemah di segmen bawah rahim. Lamanya his dalam persalinan berkisar antara 45 – 75 detik, frekuensi minimal 3 kali dalam 10 menit. His persalinan menurut faal:

  1. His pembukaan, adalah his yang menimbulkan pembukaan pada serviks. His ini terjadi sampai pembukaan seviks lengkap 10 cm, his mulai kuat, teratur dan sakit.
  2. His pengeluaran (his mengedan/ his kala II), his sangat kuat teratur, simetris, terkoordinasi dan lama. His pengeluaran ber-fungsi untuk mengeluarkan janin. Terjadi koordinasi bersama antara his kontraksi otot perut, kontraksi diafragma, dan ligament.
  3. His pelepasan uri (kala III), kontraksi mulai turun, berfungsi melepaskan dan mengeluarkan plasenta.
  4. His pengiring (kala IV), kontraksi bersifat lemah, masih sedikit nyeri, menyebabkan pengecilan rahim.

Setelah seviks terbuka lengkap, kekuatan yang sangat penting pada ekspulsi janin adalah yang dihasilkan oleh pening-katan tekanan intra-abdomen yang diciptakan oleh kontraksi otot – otot abdomen. Dalam bahasa obstetric biasanya disebut me-ngejan. Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, bila kala I pembukaan sudah lengkap dan paling efektif sewaktu kontraksi uterus.

2)    Passage (Jalan Lahir)

Disamping kontraksi dominan di daerah fundus, pada kala I persalinan menyebabkan terjdinya pembukaan secara pasif mulut rahim, memdorong bagian janin terendah menuju jalan lahir, sehingga ikut aktif membuka mulut rahim (Mauaba; 2009;h. 146).

Menurut Yeyeh (2009 b; h. 22-25), bentuk rongga panggul pada dasarnya menyerupai tabling, tetapi sedikit melengkung ke depan pada ujung kaudalnya, membentuk dudut sekitar 90o sehingga digambarkan sebagai saluran berbentuk J atau L bila dipandang dari bidang sagital.

Bentuk dan dimensi tulang panggul ditentukan oleh sejum-lah faktor lingkungan, hormon, dan genetik. Ada empat tipe utama yang dikenali: ginekoid, android, antropoid, dan platipelloid. Bentuk dan stuktur dasar panggul memiliki peran penting dalam mengarahkan kepala janin yang sedang menuruni bagian bawah rongga  panggul yang melenkung ke depan.

Peran obstetrik utama dasar panggul yang berbentuk selokan ini pada pelahiran adalah untuk menyegariskan sutura sagitalis kepala yang sedang turun dengan diameter antero-posterior pintu bawah panggul. Bagian terendah kepala janin me-nyentuh dasar panggul dan bergeser ke depan. Bagian ini adalah oksiput pada posisi fleksi yang benar, atau sinsiput pada kepala dalam keadaan defleksi dengan posisi oksipitoposterior.

3)    Passanger (Janin dan Plasenta)

Sikap (habitus), menunjukan hubungan antara bagian – bagian janin dengan sumbu janin, biasanya dengan tulang punggungnya. Sikap janin bervariasi tergantung presentasinya. Letak janin adalah hubungan antara sumbu panjang janin dengan sumbu panjang ibu, kemungkinan pada letak janin yaitu letak memanjang, letak membujur, dan oblique.

Presentasi digunakan untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah rahim. Sedangkan untuk bagian terbawah janin, hampir sama dengan presentasi hanya diperjelas istilahnya. Sikap fleksi menyeluruh pada janin dan terutama fleksi pada kepala, bersama kontraksi uterus yang efisien akan menghasilkan hubungan mekanis yang lebih baik dengan panggul. (Yeyeh, 2009 b; h. 21)

Tanda – Tanda Persalinan

Tanda – tanda permulaan persalinan

Menurut Manuaba (2010; h. 167-169), dengan penurunan hormon progesteron menjelang persalinan dapat terjadi kontaksi. Kontraksi otot rahim menyebabkan:

  1. Turunya kepala, masuk ke PAP (Lightening).
  2. Perut lebih melebar karena fundus uteri turun.
  3. Munculnya nyeri di daerah pinggang karena kontraksi ringan otot rahim. Terjadi perlunakan serviks karena terdapat  kontraksi otot rahim.
  4. Terjadi pengeluaran lendir.

Tanda dan gejala persalinan

Menurut Manuaba (2010; h. 169) tanda persallinan adalah sebagai berikut:

  1. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.
  2. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda (pengeluaran lendir, lendir bercampur darah).
  3. Dapat disertai ketuban pecah.
  4. Pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks (perlunakan, pendataran, dan pembukaan serviks).

Etiologi Persalinan

Menurut Manuaba (2010; h. 166 – 168), terjadinya persalinan belum diketahui secara pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his. Teori kemungkinan terjadinya proses  persalinan adalah:

1)    Teori keregangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tertentu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses persalinan.

2)    Teori penurunan progesteron

Proses penuaan plasenta terjadi saat usia kehamilan 28 minggu, karena terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah mencapai penurunan progesteron tertentu.

3)    Teori oksitosin internal

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior. Perubahan keseimbangan esterogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks. Dengan menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin mening-katkan aktivitas, sehingga persalinan dapat mulai.

4)    Teori prostaglandin

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak usia keha-milan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu persalinan.

5)    Teori hipotalamus – hipofisis dan glandula suprarenalis

Teori ini menunjukan pada kehamilan dengan anen-sefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid dapat menye-babkan maturitas janin, induksi (mulainya) persalinan. Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus – hipofisis dengan mulainya persalinan.

Perubahan Fisiologis Pada Kehamilan

1)    Uterus

Uterus yang semula besarnya hanya sebesar jempol  atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperpla-sia, sehingga menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot dalam rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin (Manuaba, 2010; h. 85-87).

2)    Ovarium

Dengan adanya kehamilan, indung telur yang mengan-dung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu (Manuaba, 2010; h. 92).

3)    Vagina dan Perineum

Perubahan yang terjadi pada vagina selama kehamilan antara lain terjadinya peningkatan vaskularitas dan hiperemia (tekanan darah meningkat) pada kulit dan otot perineum, vulva, pelunakan pasa jaringan ikat, munculnya tanda chadwick yaitu warna kebiruan pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan hiperemia, serta adanya keputihan karena sekresi serviks yang meningkat akibat stimulasi estrogen (Aprillia, 2010; h. 65).

4)    Payudara

Menurut Djusar Sulin dalam buku Ilmu Kebidanan (2009; h. 179), pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudara menjadi semakin lunak. Seletah bulan kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena – vena dibawah kulit akan lebih terlihat. Puting payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak. Areola akan lebih besar dan kehitaman. Kelenjar sebasea dari areola akan membesar dan cenderung menonjol keluar.

5)    Sirlukasi Darah

Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah (hemodelusi). Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalalm rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai anemia fisiologis (Manuaba, 2010; h. 93).

6)    Sistem Respirasi

Kapasitas paru secara total menurun 4-5% dengan adanya elevasi diafragma. Fungsi respirasi juga mengalami peru-bahan. Respirasi rate 50% mengalami peningkatan, 40% pada tidal volume dan peningkatan konsumsi oksigen 15–20% diatas kebutuhan perempuan tidak hamil (Aprillia, 2010; h. 71-72).

7)    Sistem pencernaan

Menurut Djusar Sulin dalam buku Ilmu Kebidanan (2009; h. 185), seiring dengan makin membesarnya uterus, lambung, dan usus akan tergeser. Perubahan yang nyata terjadi pada penurunan motilitas otot polos pada traktus digestivus. Mual terjadi akibat penurunan asam hidrokloroid dan penurunan motilitas, serta konstipasi akibat penurunan motilitas usus besar.

Gusi akan menjadi lebih hiperemis dan lunak sehingga dengan trauma sedang saja bisa menyebabkan perdarahan. Epulis selama kehamilan akan muncul. Hemorroid juga merupakan suatu hal yang sering terjadi akibat konstipasi dan peningkatan tekanan vena pada bagian bawah karena pembesa-ran uterus.

8)    Sistem perkemihan

Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi pada hamil tua, terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih. Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Hemodelusi menyebabkan metabo-lisme air makin lancar sehingga pembentukan urine akan bertambah (Manuaba, 2010; h. 94).

9)    Kulit

Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore stimulating hor-mone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum livide atau alba, areola mamae, papilla mamae, linea nigra, pipi (khloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan meng-hilang (Manuaba, 2010; h. 94).

10) Metabolisme

Menurut Manuaba (2010; h. 95) perubahan metabolisme pada kehamilan:

  • Metabolisme basal naik sebesar 15-20% dari semula, teru-tama pada trimester ketiga.
  • Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan hemo-delusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin.
  • Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar 0,5 g/kg berat badan atau sebutir telur ayam sehari.
  • Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
  • Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil:
    1. Kalsium, 1,5 gram setiap hari, 30-40 gram untuk pemben-tukan tulang janin.
    2. Fosfor, rata – rata 2 gram dalam sehari.
    3. Zat besi, 800 mg atau 30-50 mg per hari.
    4. Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi retensi air.
  • Berat badan ibu hamil bertambah. Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5-16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan 0,5 kg/ minggu.

Sumber:

Aprillia Y. Hipnostetri: rileks, nyaman, dan aman saat hamil & melahirkan. Jakarta: Gagas Media; 2010. 

Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan KB untuk pendidikan bidan edisi 2. Jakarta: EGC; 2010. 

Saifuddin AB. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBP-SP; 2009.